Seminggu yang lalu bersama ibu saya pergi ke Prajekan, Bondowoso – kota kelahiran almarhum ayah saya. Kami ke sana dalam rangka takziah, bude – kakak kandung ayah meninggal (semoga Allah SWT mengampuni dosanya dan memberikan tempat terbaik di sana)
Selepas asar, kami berangkat dengan bus umum. Sampai Situbondo sekitar jam setengah sepuluh malam. Kami dijemput oleh cucu bude dengan Avanza di terminal. Ah iya, ternyata kami satu bis dengan Mas Nono, ke tiga bude, yang juga pulang begitu mendengar ibunya meninggal.
Begitu sampai di rumah duka sudah masih banyak saudara-sudara yang masih bercengkerama di teras rumah almarhum bude yang sudah disulap bagaikan istana oleh cucunya yang seorang sudagar sukses di Situbondo. Hmm jadi ingat ketika kecil (seusia SD) dulu saya sering di ungsikan ke rumah yang waktu itu masih berdinding kayu -- sama ayah setiap liburan ramadhan -- yang kala itu sebulan penuh liburnya – Tujuan ayah saya agar saya tidak terputus dengan keluarga besar ayah dan yang lebih penting lagi bisa merasakan nikmatnya suasana ramadhan di kampong yang tidak saya dapati di kota kelahiran saya.
Saya ingat betul, hari-hari menjalani ibadah puasa di kota kelahiran ayah menjadi menyenangkan sekali. Sehabis sahur kami mengaji di langgar yang berada di tengah-tengah jajaran rumah saudara-saudara ayah. Setelah itu main sepeda, nyari ikan di kali, mancing belut dan segala macam permainan yang dilakukan anak-anak desa…
Sorenya selepas buka, kami segera ke langgar lagi, solat maghrib. Setelah solat biasanya banyak penganan ringan sudah di sediakan di teras langgar, sambil menunggu isya kami menikmatinya. Selepas sholat tarawih, masih di langgar, sekali lagi panganan sudah siap menanti kami. Waah kadang terasa keyang sekali berada di langgar. Setelah tadarus dan kadang keluar langgar untuk sekedar bermain atau melakukan kegiatan lain, kami kembali untuk tidur di langgar. Pagi harinya kami berkeliling kampung membangunkan orang-orang untuk sahur… selepas sahur kembali lagi ke langgar untuk jamaah solat subuh dan setelah itu mengaji… kalau tidak bulan romadhan pasti deh sudah ada minimal kopi hangat dan pisang atau singkong goreng di teras langgar. Sungguh kenangan yang indah…
Karena saya capai, saya berpamitan dulu untuk sholat magrib dan isya sekalian istirahat. Menjelang subuh saya bangun, dan segera bergegas menuju ke langgar, tempat di mana saya sering menghabiskan waktu kecil saya.
Langgarnya tidak berubah tetap kecil, dan masih gelap. Hanya rumah-rumah di sekelilingnya yang tampak semakin megah. Saya membuka pintunya, tidak dikunci, tapi saya heran, mengapa langgar ini masih sepi, meski adzan subuh sudah berkumandang dimana-mana.
Saya nyalakan lampu. Nampak sajadah-sajadah lusuh tegelar di lantainya. Sementara alquran-alquran yang sudah terburai memenuhi lemari tembok tempat amplifier . Debu-debu terasa di kaki saya, nampak sekali langgar ini jarang dibersihkan. Saya pandang sekeliling langgar yang lebarnya tidak lebih dari 3 x 6 meter itu, nampak beberapa bekas air hujan di abses. Tiba-tiba saya merasa sedih dan kehilangan.
“Kapan datang…” tegur seseorang
“Ohh bude… tadi malam, sama ibu..” jawab saya, sambil memberi hormat pada Bude Misnari salah satu kerabat ayah.
”Saya sejak pagi di sana (rumah bude yang meninggal) habis isya pulang, ..makanya nggak ketemu..”
”Kok langgarnya sepi Bude, apa nggak ada yang jamaah?” tanya saya..
”Ya… nggak ada… cumin maghrib dan isya aja… kalo subuh begini Mas Riri yang biasa mengimami, sholat di Masjid jami sana…” jelas beliau
”Kalo begitu, jamaah sama saya aja Bude…’” aja saya.
Setelah selesai solat subuh saya berpamitan meninggalkan langgar. Sekali lagi saya memandangi langgar tadi, nampak kontras dengan rumah-rumah megah di sekelilingnya (yang dulu kebanyakan berdinding kayu atau bambu)..
Saya kehilangan suara-suara pujian yang keluar dari speaker langgar, seperti yang dulu kami lakukan…
Lagi-lagi saya merasa sedih dan kehilangan..
Minggu, 14 Maret 2010
Ibsn: Lusuh
Diposting oleh
blog tips menulis
di
19.02
Label:
penghasilan tambahan,
uang saku tambahan,
uang tambahan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar